Ada Cerita Di Balik Kemeriahan Malioboro

0
872
Sumadi ditengah keramaian malioboro/foto:gunawan ©kismantoro.or.id

kismantoro.or.id~YOGYAKARTA-Kota Gudeg, Yogyakarta memiliki banyak destinasi wisata, salah satunya di kawasan Jalan Malioboro, yaitu suatu kawasan jalan di Kota Yogyakarta yang sangat terkenal karena terdapat beberapa obyek bersejarah, diantaranya adalah Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung atau Istana Kepresidenan, Benteng Vredeburg, Pasar Beringharjo dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret yang terletak pada titik 0 km Kota Yogyakarta.

Jalan Malioboro sendiri sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan bermacam-macam kerajinan khas Yogyakarta, wisata kuliner serta terkenal juga sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan karya-karyanya di sepanjang jalan ini.

Seorang pria yang selama 27 tahun menjadi saksi keramaian Jalan Malioboro dari waktu ke waktu, turut menemani penelusuran kami. Pria itu mengaku bernama Sumadi. Dan menurut pengakuannya, sudah 27 tahun ia mengais rejeki sebagai penarik becak di Jalan Malioboro. Ia memulai aktifitasnya dari jam 11 siang dan baru pulang jam 1 dini hari. Sedangkan pagi harinya ia gunakan untuk beristirahat maupun berkumpul bersama keluarga.

Pria asal Bantul ini, menekuni profesi sebagai penarik becak sejak tahun 1989 dengan penghasilan bersih rata-rata perhari berkisar Rp. 70.000,-. Pria yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai di SMP ini, setiap hari harus pulang balik dari Malioboro ke Bantul, namun untuk pulang ke Bantul ia menggunakan motor sedangkan becak miliknya ia kandangkan dipenitipan dengan ongkos sebesar Rp. 2.000,-.

Pria kelahiran tahun 1970 ini memiliki tiga orang anak, yang sulung baru kelas 6 SD sedangkan yang ketiga, ia mengaku masih kecil. “Kebetulan saya menikah agak telat mas,” katanya. “Yang paling besar cewek, kelas 6 SD, terus yang ketiga, masih sangat kecil mas,” katanya lagi menambahkan.

Sumadi juga menceritakan, sempat berhenti menarik becak cukup lama, saat terjadi gempa pada Mei 2006 yang lalu, ia harus berhenti menarik becak dikarenakan rumahnya rata dengan tanah. Saat itu, ia harus bekerja keras untuk membetulkan dan membangun rumahnya kembali. Dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah maupun bantuan dari pihak lain, ia bersama-sama warga masyarakat setempat kembali membangun tempat tinggalnya. “Saat itu saya membangun rumah berukuran 6 x 6 m dan saya bagi menjadi dua, satu bagian untuk adik saya dan sisanya saya tempati dengan istri dan anak sulung saya,” kata Sumadi mengisahkan.

“Saya dan keluarga masih trauma mas, terutama kalau mendengar suara gemuruh atau benturan yang keras, masih suka kaget dan deg-degan,” tutur Sumadi.

Menurutnya, peristiwa gempa tersebut tetap menyisakan trauma kepada para korban, namun Sumadi sendiri mengaku tidak mau terus larut dalam traumanya tersebut, hidup harus dijalani, anak dan istri butuh makan dan penghidupan yang layak, biarlah peristiwa itu menjadi kenangan dan sebagai motivasi untuk terus menjalani kehidupan ini.

Gunawan Wibisono-kismantoro.or.id

Dapatkan Informasi terbaru kami melalui E-mail anda (Gratis)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar dengan Facebook anda, untuk Kismantoro kita..